Sep 30, 2011

Kembali Kepemberdayaan: Revolusi itu menciptakan 4

Sebelumnya, gue harap lo semua jangan bosen ya liat tulisan gue.hehehehe...walaupun panjang, tapi saya rasa ini bakal jadi bermanfaat buat temen-temen

Aku terseyum, ingin sekali tau. Dalam kondisi kantuk aku mulai melihat mereka menjadi samar, berbayang. “hati-hati bung, ketemu nanti”, ujar Tan lirih.

***

“Woi!! Bangun, tidur mulu, makanya jangan suka bergadang!!!”. Entah siapa, yang telihat hanya cahaya yang memaksa masuk kamarku. Berusaha bangkit, menegakan badan, sadar bahwa suara itu, suara temanku,memecahkan mimpiku, si kribo pengganggu.

“eh, lo, sialan, gangguin gw lagi diskusi aja”, ujarku, kepada sang pengacau mimpi, Kiwo namanya, teman kontrakanku. Ia terlihat senang, di depan mataku ia sedang loncat-loncat, berjungkir-balik selanjutnya ia berlari ditempat sambil berteriak-teriak “Revolusi, Revolusi Sampai Mati”. Entah apa yang ada dipikirannya, sampai hari ini pun aku bingung masih bertahan menjadi temannya. Sejak kejadian ospek pilu, yang membuat kami berkumpul mengucapkan sumpah di awal semester perkuliahan kami.


Seperti kebanyakan mahasiswa baru, seharusnya kami tertunduk melihat dan menghadap tanah, bila ada mahasiswa atasan kami. Seharusnya seperti itu, namun entah kenapa aku tak mau melakukannya, tak ingin merendahkan diriku dihadapan mereka yang selalu berbicara solidaritas dengan bentakan, berbicara kesetaraan dengan teriakan. Menjijikan sungguh mulut mereka seperti sedang makan bangkai. Itu yang ada dipikiranku, bukan aku yang menginginkannya, fantasi ini muncul begitu saja mungkin ini pengaruh sinetron, membuatku tak mampu menahan perutku yang mulai bergetar, menahan tawa.

Mata-mata itu, aku tahu, mulai terlihat tak menyukaiku, empat orang mulai menghampirku. Aku pun mulai mendekatinya, membusungkan niat menatap awan, karena malas melihat mereka yang kerjanya menjelek-jelekan muka sendiri.

“jangan konyol, sok jagoaan apa? Muka lo jangan nyolot gitu!” salah satu dari mereka mulai berbicara, seperti terus mengulang-ulang mantra pemicu perkelahian, aku sudah sering mendengarnya, ketika pertama kalinya aku dilabrak waktu menempati kelas satu SMP, kelas dua SMP, kelas tiga SMP aku tak dilabrak mungkin karena aku sudah menjadi yang paling tua di SMP ku. Lalu, aku mulai di labrak kembali di awal menginjakan kaki di masa indah SMA, di kelas dua, dan aman kembali di saat aku kelas tiga, saat menjadi tua. Kini di awal memasuki dunia kampus, mantra itu ku dengar lagi, masih sama seperti yang dulu “Jangan konyol, sok jagoaan apa? Muka lo jangan nyolot gitu!” tak ada yang berubah, kenapa seperti ini pikirku, entah dari siapa mantra ini muncul, anggap sederhana, mungkin ia adalah orang yang paling menderita karena tak memahami lelucon, budaya orang tua memang tidak mengasyikan.

“woi, ngapain lo, tatap mata gw!! Kalo ada orang ngomong tuh dihargaiin!!” teriakan ini keluar dari laki berbadan besar.

Sambil tetap melihat awan, aku jujur padanya


“ maaf kak, saya ga mau ngeliat mata kakak”


“kurang ajar lo!! Ga sopan!! Liat mata gw sialan!!”, tangannya mulai menjambak kerah bajuku.


“ga mau kak, saya takut dihipnotis”, tak disangka ketiga pengikutnya pun ikut tertawa sambil mengangkat telunjuknya untuk menunjuk-nunjuk si berbadan besar yang masih menjambak kerah bajuku. Mungkin karena malu, sepertinya si badan besar ingin berniat melukaiku, terlihat dari mimik mukanya, yang kebetulan aku pernah membaca buku “membaca emosi orang” karya Paul Ekman. Di situ tertulis bahwa ciri-ciri orang yang sedang marah, tandanya ada pada rahang, yang digerakan ke depan Pelupuk mata bagian bawah juga sedikit menegang. Dengan adanya ciri-ciri ini, aku merasa terancam, ingin segera menyusun rencana, menghindari petaka yang sudah diprediksi.

“bangsat, gw hajar lo!!”,ujarnya, sambil mengepalkan tangannya yang mulai mengeras, terlihat dari uratnya yang mulai padat. Dan, aku memutuskan untuk tidur dicekraman tangannya.


“Eh, kenapa lo? Woi, jangan pingsan, dek jangan pingsan, bangun-bangun”, suara si badan besar mulai terlihat panik, jelas terdengar panik. Ternyata benar tidur itu mampu menunda masalah, ayahku ketika ibu marah-marah dirumah, pasti ayah langsung kekamar dan pura-pura tidur, ibu pun langsung diam dan tidak berisik lagi. Temanku bingung menghadapi ujian nasional ia memutuskan untuk tidur dan tidak belajar. Temanku saat selikuh dengan wanita lain, pasti ia akan bilang kepada pacarnya bahwa kemarin malam ia tidak bisa mengakat telfon karena sedang tidur. Adikku untuk menghidari ketakutannya terhadap hal-hal mistis seperti kuntilanak, suster ngesot dan semacamnya ia memilih untuk tidur. Itulah pikirku untuk menghadapi si berbadan besar untuk lepas dari hantamannya, dengan cara tidur.

“Waauuuoooo, grrraaa!!!! ahhAHAHahahah!!! Aw aw aw awa”, terdengar suara teriakan keras sekali diiringin suara-suara kegaduhan, membuat penasaran mencari tahu. Si badan besar mulai melepas cengkraman tangannya dari bajuku, aku terjatuh ketanah untuk tetap menjaga akting tidurku.

Suara teriakan mulai menggaduh, mendekat kearahku, penasaran lebih kuat mengendalikan, tak sadar aku mulai berdiri menyaksikan sosok laki-laki gondrong yang sedang berlari sambil berteriak, hanya mengenakan celana pajang hitam dan bertelanjang dada. Puluhan panitia ospek mengejarnya sambil memperingati dengan TOA “ buat teman-teman panitia harap tangkap peserta yang kesurupan itu!!”.

Aku kaget, teryata laki-laki itu peserta seperti ku juga di ospek ini, aku hanya melihatnya, saja tak berniat untuk membantunya. Laki-laki tersebut terlihat mencoba memanjat pohon untuk menghindar, ia berteriak tak karuaan, membuat suasana semakin ricuh, ratusan mahasiswa baru ikut menjadi penasaran tak bisa dibendung lagi oleh panitia, tak tertibkan lagi. Ratusan mata penuh penasaran, ketakutan, kecemasan melihat kearah pohon yang didaki lelaki gondrong tersebut. Sejenak suasana menjadi sunyi, karena lelaki tersebut diam tak bergeming, yang terdengar kini hanya mulut yang berbisik.

“ Kembalikan kita”, teriaknya dari atas pohon sambil terus memanjat duduk dicabang pohon sambil mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya. Ia terus melihat kami dari atas pohon. Matanya mulai melihat kertas yang terpeganng di tangannya, mulutnya terlihat ingin bicara, raut wajahnya mulai membara.

“Patah, diam, bingung, di sini rasanya tak cukup

Orangtuaku meringis, selalu, malam pulang dengan badan terbanting

Penderitaan sempurna milikku, ketakutan mulai mengembara dalam jiwa

Yang mencari tak pernah memberi, aku asik sendiri di atas tangis mereka punya nestapa

Barangkali aku tak berarti, hanya menjadi saksi harapan yang mati.

Tangis, marah, luka, di sana rasanya tak bisa

Mari, mengingat segala yang mengganjal

Darah tertumpah, cita-cita diberangus, masa depan takut terpikirkan

Yang tersisa tinggal jejak, keinginan yang padam, jiwa tak percaya atas petaka

Kini selebihnya aku menanggung luka, hanya menjadi penggembira atas air mata


Berkali-kali aku percaya bahwa penderitaan dekat dengan nadi kita


Di sini, di sana, disudut-sudut kesunyian, semua orang takut melangkah?

Sudahlah, keluarlah dari persembunyian, jangan berlari mengumpat nasib

Kehidupan bukan milik mu, kehidupan milik kita, jangan lagi kau bertanya tetang siapa? Ini mimpi buruk, karena kita takut melangkah bersama


Waktu, hidup, pecahlah ditengah bisik-bisik kesadaran

Ini titik temu, segala kemungkinan mulai bercerita

Jangan disembunyikan dalam-dalam, saatnya menancapkan akar

Mendengarlah, Berbicaralah, hati kini mulai memahami

Menjalar mengetuk setiap nurani, merajut keberagaman dibalik tirani


Lingkaran mulai membesar, mereka mulai berbaris, berdatangan ingin bersuara

Ini bukan tentang kesendirian, kalian dengar ceritaku. Yang membuka kita, kita yang sadar, kita yang bertanya? Kenapa kita terus dikelabui, disiasati untuk tidak peduli.


Kita bukanlah orang buta yang tak mampu melihat pencabulan terhadap keadilaan

Kita bukanlah orang tuli yang tak bisa mendengar jeritan perut-perut diikat maut

Kita bukanlah orang bisu yang tak bisa membantah penindasan si pemakan bangkai


Sepotong harapan masih tersisa, ditengah zaman yang terus menghina

Moralitas bukanlah hal rumit, bergandengan tangan seharusnya tidaklah sulit

Berkumpullah

kehidupan penuh rencana. Dunia ini masih asing.

Orang banyak akan bergembira menari menaklukan rasa takut, berbagi kebahagian yang sempat terluka.

Membuka tirani kehidupan

Kembalikan Kita

Mulailah melangkah”,

Ternyata ia, membacakan puisi di atas pohon. Membuat beku suasana disiang ini, ia mampu membius kami, dengan membacakan puisi dengan gelora yang mengebu-gebu. Baru kali ini aku melihat orang kesurupan membaca puisi, ia terlihat turun dari pohon memberi salam kepada semua orang yang sedang cemas melihatnya, “ ini puisiku di dunia penuh basa-basi, melupakan subtasi, menolak isi. Yasudah saya pulang dulu ya teman-teman, satu catatan saya ga kesurupan kok, salam kenal, nama saya Kiwo, mari bermain”, ujarnya, lalu dia berlari jauh meninggalkan kami, melompati pagar kampus.

Kita semua menjadi bingung, lalu ada salah satu panitia yang mulai menyadarkan kami bahwa lelaki itu telah melarikan diri dari kegiatan ospek. Panitian pun menjadi geram dibuatnya, sesaat kemudian sebagaian perserta ospek juga ada yang mencoba meloloskan diri dari kegiatan ospek, mereka mulai berlarian, berpencar mencari celah untuk kabur. Panitia ospek tak mampu berbuat apa-apa untuk membendung semgat pemberontakan mahasiswa baru. Alhasil, ospek pada tahun kami dinyatakan gagal. entah kenapa, hari ini menjadi penuh kegembiraan, semangat yang memberontak.


Ditulis oleh Wildanshah

No comments:

Post a Comment