Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Nov 10, 2012

Negara Democrazy


Oleh : Lia Kusuma Astuti

Adakah diantara kita yang masih mengingat dengan baik bagaimana kabar kasus Lumpur Lapindo hari ini? Ya, nasib korban lumpur lapindo masih terkatung-katung hingga sekarang. Namun media massa lokal maupun nasional, masih menyelipkan sedikit kolom pemberitaan mengenai kabar terkini kasus Lumpur Lapindo. Setidaknya masih terdapat perhatian publik terhadap kasus ini.

Tragedi yang bermula pada tanggal 29 Mei 2006, tepat tiga hari pasca gempa yang mengguncang Yogyakarta, dianggap sebagai “bencana alam”. Status bencana nasional yang disandangkan pada kasus Lumpur Lapindo ini dikuatkan oleh putusan Sidang Pengadilan Surabaya: Tanggal 30 Maret 2010, No: 07/PRAPER/2010/PN.SBY, yang menolak gugatan Pra Peradilan atas putusan SP3 Polda Jatim, dengan konsekuensi hukum: SP3 tersebut menjadi kokoh atas putusan pengadilan tersebut, sehingga secara pidana, Lapindo Brantas, Inc., tidak bersalah. Padahal, menurut riset yang dilakukan oleh Walhi, semburan lumpur panas Lapindo disebabkan oleh kesalahan prosedur dalam proses pengeboran (human error).

Jan 16, 2012

MEMBACA PERLAWANAN KONTRA- HEGEMONIK LEWAT FILM “GANDHI”


Oleh : Among Prakosa

Tubuhnya kecil, tampak kurus di dalam setelan kemeja, rompi, dan pantalon gaya eropa. Kulitnya coklat, cenderung gelap. Mengenakan kacamata berbingkai bulat, seperti milik John Lennon, ia menunjukkan ketertarikan besar pada buku di tangannya sampai merasa perlu menanyakan pendapat petugas gerbong yang sedang menata bagasi di kabin yang ia tempati.

Belum lagi pertanyaannya tentang neraka –yang bertentangan dengan ajaran Hindu yang ia yakini–  dijawab oleh petugas gerbong, menerobos masuk kondektur kereta, menanyakan tiket lalu memaksanya untuk pindah ke gerbong kelas tiga. Ia menolak.  Tentu saja ia menolak, tiketnya tiket kelas satu, dan ia tidak salah masuk ke kabin.

Sebagai warga negara British Empire, dan seorang pengacara, ia memahami betul hukum milik Kerajaan Inggris, termasuk haknya sebagai warga negara Inggris yang dijamin oleh hukum. Sayangnya, ini adalah perjalanan pertamanya ke Afrika Selatan, koloni Inggris, tempat politik apartheid berlangsung. Hukum Inggris di Britania tidak berlaku di sini. Singkat cerita, setelah berdebat dan bersikeras untuk tetap berada di kabin kelas satu, dan hak yang mestinya ia terima sebagai warga negara Inggris, si kecil ini dilempar keluar di stasiun perhentian berikut. Kesalahannya, hukum apartheid melarang, tanpa kecuali, seorang kulit berwarna menggunakan fasilitas yang sama dengan kulit putih.

Dec 12, 2011

Renungan dari Api yang Membakar Kecewa | a tribute to Sondang Hutagalung

Oleh : Among Prakosa

Dia yang terbaring di sana tak lagi bicara.

Dia Sondang Hutagalung, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Bung Karno angkatan 2007. Ketua Himpunan Advokasi Studi Marhaen Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi). Pada hari Rabu (7/12) Sondang melakukan aksi martir di depan Istana Negara, Sondang membakar dirinya. Jaringan Kampus, aliansi mahasiswa yang menggelar doa bersama dan renungan di depan RSCM, yakin tindakan Sondang merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa[1].

Dua hari setelah aksi martir Sondang, dalam peringatan Hari Antikorupsi di Masjid Agung Jawa Tengah Kota Semarang SBY mengatakan, penanganan kasus korupsi ada di wilayah hukum, jangan dicampuradukkan dengan motif politik[2].

Sementara itu, dalam kolom Politik-Ekonomi di harian Kompas, Budiarto Shambazy membandingkan aksi Sondang dengan Mohamed Bouazizi, pedagang buah dan sayur yang membakar diri di depan kantor gubernur setelah frustasi karena niatan untuk mengadu ke gubernur berujung pengusiran dirinya oleh polisi[3].

Dec 10, 2011

Menulis untuk Membela Eksistensi

Oleh : Among Prakosa

Apa? apa yang kamu lakukan setelah membaca sekian banyak buku? Itu sebuah pertanyaan umum yang di sampaikan Suluh, salah satu teman di Jogja saat kami ngobrol di kontrakannya.

Dan esoknya, selepas Magrib saya bertemu dengan sejumput realita sosial yang terlalu sering saya abaikan. Di perempatan Condong Catur sepasang laki-perempuan duduk sebelah-menyebelah, berlindung di balik gerobak di dalam bayang tebal yang jatuh dari ruko dibelakangnya, menyamarkan keberadaan mereka di antara sorot lampu mobil pada simpang yang ramai. Yang perempuan duduk menjurus ke utara, menelengkan kepalanya ke bahu yang lelaki. Tak jauh dari tangan kirinya botol air mineral berdiri, hampir terisi penuh dengan cairan berwarna merah tua, mungkin teh. Yang lelaki melihat jauh ke depan ke arah jalan. Tak ada suara terdengar dari keduanya. Gerimis.

Sampai saya di seberang. Ada seorang anak laki-laki, mengenakan celana pendek, kaus berpotong lengan, tidak beralas kaki. Ia baru saja meninggalkan badan jalan, naik ke pulau beton tempat tiang bercat kuning terpancang. Lampu lalulintas menyala hijau, mulutnya menggumamkan kata yang tak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya.

Di punggung, sesak  di dalam tas, tiga buah buku yang baru saja saya beli dari toko buku di selatan simpang ringroad Condong Catur. Total nilai ketiganya hampir 200 ribu. Perlahan terngiang sebait tanya Wiji Thukul,

“Apa guna banyak baca buku…?”


Sep 30, 2011

Kembali Kepemberdayaan: Revolusi itu menciptakan 4

Sebelumnya, gue harap lo semua jangan bosen ya liat tulisan gue.hehehehe...walaupun panjang, tapi saya rasa ini bakal jadi bermanfaat buat temen-temen

Aku terseyum, ingin sekali tau. Dalam kondisi kantuk aku mulai melihat mereka menjadi samar, berbayang. “hati-hati bung, ketemu nanti”, ujar Tan lirih.

***

“Woi!! Bangun, tidur mulu, makanya jangan suka bergadang!!!”. Entah siapa, yang telihat hanya cahaya yang memaksa masuk kamarku. Berusaha bangkit, menegakan badan, sadar bahwa suara itu, suara temanku,memecahkan mimpiku, si kribo pengganggu.

“eh, lo, sialan, gangguin gw lagi diskusi aja”, ujarku, kepada sang pengacau mimpi, Kiwo namanya, teman kontrakanku. Ia terlihat senang, di depan mataku ia sedang loncat-loncat, berjungkir-balik selanjutnya ia berlari ditempat sambil berteriak-teriak “Revolusi, Revolusi Sampai Mati”. Entah apa yang ada dipikirannya, sampai hari ini pun aku bingung masih bertahan menjadi temannya. Sejak kejadian ospek pilu, yang membuat kami berkumpul mengucapkan sumpah di awal semester perkuliahan kami.

Kembali Kepemberdayaan : Revolusi itu Menciptakan 3

Sambungan ...

Aku mulai berjalan ke dapur. Selakah demi selangkah, kakiku melangkah sambil memikirkan pembicaraannya tadi. Sembari jalan menuju dapur, memberiku kesempatan untuk bermain di dunia maya,membuka Facebook. Ada beberapa orang yang ku kenal mulai meng-up date-status. Beragam, ada yang memberi tahu sedang minum, beberapa sakit hati karena diselengkuhi kekasihnya, menyatakaan perasaan, menghina musuhnya, berdoa kepada Tuhan pun kini muncul mewarnai dunia maya. Kadang, aku merasa dunia maya merupakan ruang dimana manusia ingin mencitrakan diri se-Ideal yang ia inginkan, melalui citra diri yang diharapankan. Begitu juga aku.

Setiba di dapur, aku mulai mencari gula, teh dan beberapa kayu manis. Membuka lemari, berharap ada cemilan yang bisa disajikan. Mengambil teko dan mengisinya dengan air. Memang tidak praktis. dapur yang tidak begitu besar ini, tidak menyediakan dispenser. Menyalakan kompor, lalu mulai memasak air. Suasana dapur begitu sunyi, tidak ada suara jangkrik, yang ada hanya suara pohon bambu, tetes air, dan kompor gas.

Kembali Kepemberdayaan : Revolusi Itu menciptakan 2

Sambungan ...

Revolusi, Revolusi, Revolusi, ideologi. Terkadang, kata ini memiliki makna yang cukup mendalam, beribu harapan dikepala sedikit orang yang mengingikannya.

Tiba-tiba, dalam perbincangan kami, orang itu datang memberikan sapaan dengan tawa yang begitu muram. Di balik malam, wajahnya begitu samar namun terlihat akrab, dengan gerak tubuhnya yang begitu tenang. Aku dan Tan malaka berhenti sejenak, membiarkan obralan kami terganggu, untuk menyelesaikan penasaran kami.

"Hai, Bung, sudah lama kita tidak bertemu? kaum begitu populer sekarang, dikalangan remaja yang mulai melupakan ku" ucap seorang berambut tebal, dengan nada sedikit menyindir. Wajahnya mulai terlihat, tak lama Tan malaka tersontak tertawa, lalu mengenalkannya pada ku.

Kembali Kepemberdayaan : Revolusi itu Menciptakan

Waktu telah berlalu, secarik kopi menemani ku bercanda dengan Tan Malaka, sosok revolusioner pada masanya, mungkin sampai kini. Ia sudah tak terlihat muda lagi, namun pikirannya tak pernah berubah, lurus, tidak bertele-tele,"Revolusi itu menciptakan!", ujarnya. ditengah sunyinya malam ini, pada ku.

aku tersentak kaget, mencoba memahami apa yang ia katakan pada ku, ditengah hingar-bingar teknologi dan kebebasan; memilih barang konsumsi." apa lagi yang mau di ciptakan? melalui revolusi" pikir ku dalam hati. generasi sekarang jangan selalu disandingkan dengan penderitaan masa lalu, generasi 2011, bukanlah generasi kelaparan, bukanlah generasi yang ditindas dengan kerja paksa. generasi kami adalah penikmat kemerdekaan fisik dari perginya penjajah,diatas bumi putra.

Pria padang itu pun menarik sedikit alisnya, lalu berkata "apa yang membedakaan zaman mu dengan zaman ku?". pertanyaan tegas, tidak bertele.


"begini om, zaman anda waktu itu, pejajahan kapitalisme sangat jelas bahwa itu benar-benar menindas, terus, kapitalisme itu menjadi musuh yang harus di lawan, kalau di zaman ini kapitalisme, itu sudah menjadi udara yang di butuhkan manusia untuk hidup, ia menciptakan barang murah, contohnya Hape saja, coba liat iklan XL, sepertinya cukup repsentatif menggambarkan kondisi kelanjutan kapitalisme, ia menjadi membumi, memberikan kesenangan untuk memiliki, hape tidaklah menjadi barang mahal, teknologi ini menjadi dekat dengan nadi semua golongan masyarakat, yaa, seperti kata teman ku, mungkin inilah indahnya tidak ada monopoli, karena ada pola persaingan yang berdampak pada pola konsumsi, hhmmm, ya, kapitralisme kini mengkontrol konsumen, dengan citra, dengan citra dengan kebebasan mengkonsumsi, ini lah arti kemerdekaan angkatan kami", muka ku mulai memerah, karena malu.


suasana mulai sepi, secangkir kopi belumlah habis. pembicaraan kami masih berlanjut.


"entahlah apa yang ada dimenak kalian, tapi aku banyak melihat di generasi mu, banyak sekali aktifis selalu turun kejalan, meneriakan revolusi, menggocang trotoar dengan bendera yang dikibarkan, walaupun saya tidak pernah melihat satu bendera pun yang berwarna merah putih. yaa, hati ku cukup senang masih ada yang menanam benih perjuangan" gumam si Datuk ini.


Romantisme, pikir ku, orang tua PKI ini terlalu berromansa bersama nuasa masa lalu." mungkin om, saya mengingat apa yang menjadi ramalan om, di karya massa aksi , janganlah terjebak bagi kaum revolusiner dalam slogan heroik tanpa kerja. ya, sepertinya, apa kata om, bisa menjelaskan kondisi para pejuang kini. demontrasi kini menjadi panggung, puisi perlawanan hanya pergi bersama angin, yang abadi hanya foto yang tertankap kamera, esoknya para pejuang ini bercerita tentang gaya aksi mereka yang ada di koran. untuk lebih mudah membahaskannya, aktifis kini menjadi gaya hidup, demo menjadi hobi, mencela penguasa hanya untuk mencari kesenangan. begitulah anggkatan kami, hanya senang pada permukaan, tanpa ada pendalaman, terjebak citra lupa pada subtansi. angkatan kami suka bergaya dengan melacurkan penderitaan rakyat, ideologi sepertinya cuma ada di status Facebook dan mungkin juga di twiterr atau kaos-kaos"


oh iya ini masih berlanjut looh....


Ditulis oleh Wildanshah

Jul 12, 2011

Belajar Semioitika Yuk !

aaa..ooooo.. (teletubbies style, hehe). kembali lagi bersama gue di acara yang paling sakral seluruh dunia serta isinya, yaitu KONSER 1 JAM BERSAMA DAFI (tapiii sepiiiiiiiikk wakakakaka). padahal mah kayaknya gue mau curcol aja sih di tulisan ini. well guys, gue mau curcol. pernah ngak sih lo ngerasa kalo hidup kita ini penuh dengan tanda? maksut gue tuh tanda-tanda yang berupa simbol. kalo gue pribadi sih, gue ngerasa banget kalo hidup kita ini penuh dengan simbol, baik simbol dari luar diri kita maupun dari dalam diri kita.

kalo nggak percaya, coba aja lo cek sendiri kalo misalnya lagi marah. secara nggak sadar, muke (bahasa betawi nya muka) lo pasti jelek (kayak gue,hehehe). jelek dalam artian tuh, alis lo turun dengan tajem (udah kayak prosotan di water boom), trus raut muke lo jadi cemberut, trus mulut lo sedikit maju ke depan (monyong). apalagi kalo mental dan batin lo nggak kuat untuk nahan marah lo, pasti bakalan ngeluarin air mata yang panas (karena lagi marah makanya gue bilang panas, hahahaha). dari contoh yang udah gue sebutin barusan, lo pernah rasain nggak? kalo nggak, lo berarti manusia yang unik dan wajib masuk ke MURI, wakakakaka.

Jun 22, 2011

Global "warming"

Global warming. Suatu hal yang sudah tidak asing lagi untuk didengar. Mungkin buat lo yang belom pernah denger kata-kata global warming, bisa gue jelasin sedikit. Kalo menurut pandangan orang pada umumnya, global warming artinya adalah pemanasan global. Pemanasan Global dalam arti bumi yang sudah mulai panas. Pemanasan ini terjadi karena semakin maraknya bahan kimia yang menjadi wabah bagi bumi serta isinya. Lalu, akan menjadi apakah bumi nantinya jika bahan kimia merajalela?

Pertanyaan diatas memang terlihat konyol, karena manusia hari ini hanya sedikit yang sadar bahwa global warming ini bisa berdampak sangat buruk. Ketika global warming ini sudah parah, maka yang mungkin terjadi ialah es di kutub utara dan selatan mencair. Jika mencair, mungkin separuh bumi akan tenggelam ditelan oleh air. Akhirnya global warming ternyata sangatlah berdampak negative untuk kita semua.

Jun 8, 2011

Hello.. Helloo

Purwokerto – Banyumas, Kedai Telapak. Terang Sore, nama yang sangat unik jika dipakai oleh sebuah komunitas. Awal gue masuk terang sore, gue pikir ini komunitas yang kerjaan nya main layangan, main bola, main basket, and permainan yang dilakukan di sore hari pada umumnya. Tapi ternyata terang sore tuh komunitas yang rutinitas nya baca. gokil nggak tuh?
Oke gays (eh maksud kita guys.hehehe).. kita rasa profile lebih lanjut tentang terang sore harus gue jelasin dulu disini, biar lo semua yang baca jadi nggak bingung. Ini tentang sejarah terang sore dulu ya bray..tenang aja ini tuh Cuma sejarah bukan pelajaran sejarah yang ada di sekolah-sekolah atau mata kuliah di kampus-kampus.wkwkwkwk
Pertama nya gue mau cerita dulu nih, dari siapa gue tau terang sore ini. Waktu itu gue lagi di kantin FISIP UNSOED sama temen-temen gue. Trus, ada suara kecil yang bikin gue penasaran. Ternyata yang manggil gue tuh adalah seorang kurcaci yang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNSOED yang bernama Laras Maharani. gue ngomong dalem hati “aduh si bocil yang satu ini dating. Pertanda buruk nih.. Kabuuuuuuurrr…..”. tapi, ternyata tiba-tiba si Laras malah mau traktir gue makan di salah satu tempat makan di daerah kampus.
Pas gue udah sampe tempat makanan nya, si laras ngajak gue buat ikutan komunitas baca yang bernama Terang Sore ini. Dan sebelum gue bertanya lebih banyak, si Laras ceritain sejarah tentang Terang Sore ini. Si Laras bilang, “ Jadi dulu tuh di desa Notog di daerah Patikraja, generasi pertama di terang sore ini sering main ke desa itu, karena disana dulu tuh setiap sore anak-anak sering main keluar , main layang-layang untuk belajar sama temen nya, main petak umpet, dan lain-lain setelah mereka melepas penat mereka di siang hari di sekolah. Berawal dari situlah nama terang sore itu ada. Tadinya ini tuh bukan komunitas, tapi Cuma kelompok kumpulan anak remaja yang suka membaca di desa tersebut, tapi setelah bergabung kedai telapak kita jadi komunitas, karena kedai telapak buka jaringan untuk komunitas. Oh iya…Ini tuh komuntas baca pertama loh daf di daerah purwokerto. Dan Alhamdulillah banget sekarang disana ada komunitas yang se-nafas juga sama terang sore. Nama nya PADANG ILALANG. Dan fokus nya tuh ke anak-anak.”
Dari cerita itu gue bisa simpulin bahwa komunitas ini ternyata membawa dampak yang positif buat orang lain. Dan gue fikir, disini gue bisa belajar banyak tentang pesan-pesan hidup. Dan pesan moral yang gue dapet setelah gue masuk sini adalah “BELAJAR ITU TIDAK CUMA BERKAITAN SAMA BUKU DOANG, MELAINKAN APA YANG KITA LAKUKAN DETIK INI ADALAH BELAJAR. BELAJAR JUGA TIDAK HARUS MELEMBAGA SEPERTI SEKOLAH, UNIVERSITAS, ATAU LEMBAGA PENDIDIKAN LAINNYA, TAPI JUGA BISA DI LINGKUNGAN SEKITAR. DAN SATU LAGI TERNYATA SORE HARI ITU SAAT YANG EFEKTIF JIKA DIGUNAKAN UNTUK BELAJAR”

(di utik utik sama : mas Muammar Khadafi)