Sambungan ...
Aku mulai berjalan ke dapur. Selakah demi selangkah, kakiku melangkah sambil memikirkan pembicaraannya tadi. Sembari jalan menuju dapur, memberiku kesempatan untuk bermain di dunia maya,membuka Facebook. Ada beberapa orang yang ku kenal mulai meng-up date-status. Beragam, ada yang memberi tahu sedang minum, beberapa sakit hati karena diselengkuhi kekasihnya, menyatakaan perasaan, menghina musuhnya, berdoa kepada Tuhan pun kini muncul mewarnai dunia maya. Kadang, aku merasa dunia maya merupakan ruang dimana manusia ingin mencitrakan diri se-Ideal yang ia inginkan, melalui citra diri yang diharapankan. Begitu juga aku.
Setiba di dapur, aku mulai mencari gula, teh dan beberapa kayu manis. Membuka lemari, berharap ada cemilan yang bisa disajikan. Mengambil teko dan mengisinya dengan air. Memang tidak praktis. dapur yang tidak begitu besar ini, tidak menyediakan dispenser. Menyalakan kompor, lalu mulai memasak air. Suasana dapur begitu sunyi, tidak ada suara jangkrik, yang ada hanya suara pohon bambu, tetes air, dan kompor gas.
Menunggu air matang. Aku mulai kembali kedunia maya, niatku ingin mengisi waktu dengan melihat beberapa status terbaru, mata mulai meraba beberapa baris huruf dilayar telpon genggam. Ada yang menarik, status dari seorang pengarang terkenal Cekoslowakia, Milan Kundera: “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting—perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa”. Tepat di atas status Milan, aku membaca status yang sangat puitis dari Khalil Gibran: “Orang dungu diangkat jadi pahlawan, negarawannya serigala, filosofnya gentong nasi, senimannya tukang tambal dan tukang tiru. Bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompetnya”. Ku lihat, ada jempol yang menyukai status kedua orang ini.
Namun, menurutku itu tidaklah berarti apa-apa. Ada yang lebih hebat, jauh lebih banyak yang menyukai. Status yang membuatku merinding dan terdiam, statusnya tertulis: “huftt, 9i B3tE niech, pacal 4ku celingkuh, Dacal KE0nG RaCUN. 4da Yg MAU dAN Cayang MA q GA?”. Sejenak aku berfikir, mungkin inilah semangat seni agak post-modernisme, menambrak semua kemapanan. Penasaran rasanya, dengan orang ini. ku lihat tepat disamping fotonya, nie Neniz Cewek mutz cali Cayang. Ya, itu namanya. Dan banyak sekali yang memberi komentar. Ramai menjadi pembicaraan. Merasa bahagia, merasa menderita, yang tersisa hanya kebanggaan semu di ruang publik, dimana masyarakat suka menonton. Memberi komentar, tak jarang mengikuti. Agaknya, zaman ini suka mengeser sesuatu yang besar kepada hal yang remeh temeh, hal remeh-temeh tergeser menjadi hal besar.
Bunyi air mendidih, mulai mengingatkanku. Menyadarkanku untuk segera pergi dari dunia maya. Uap mulai keluar teko, pertanda aku harus bergegas membawa mengakatnya dari kerumunan api. Waktu begitu singkat, berkisar 10 menit. Aku mulai menyeduh dan meramu teh. Dan segera bergegas menyiapkannya.
Aku mulai berjalan, mengantarkan sedikit cemilan dan teh hangat kepada ketiga tokoh, ketiga pembaca Marx yang baik, “silahkan, selagi hangat. Kalau om-om ini perlu yang lain sampaikan saja”.
“oh, tidak usah. Terimakasih, ini saja sudah cukup” ujar Hatta, sembari mengambil teko dan menuangkan teh ke semua gelas yang tersedia.
aku mulai duduk, melirik Aidit, yang sedang berusaha menyalakan api di tungku dengan arang. Tan tampaknya, mulai tak sabar kembali berdiskusi begitu juga Hatta yang menyuruh Aidit segera bergegas menyalakan api.
“Jauh dari maksud kita mengatakan kejadian itu adalah semata-mata perbuatan manusia Belanda. Menjajah negeri ini. Kita sendiri telah cukup mengenal pekerti dan tabiat bangsa Belanda. Tetapi lagak dan lagu Imprealis Belanda menjadikan bangsa Belanda dulu menjadi jahat, bengis dan lain-lain. Dihambur-hamburkan uang Indonesia dan di sanalah mereka menghisap uang pensiunnya dari peti uang Indonesia. Akibatnya membocori dan mengeringkan ekonomi Indonesia”, tak ada jeda, ucapan Tan begitu tajam, membuat suasana kembali memanas.
Tak ada keramai. Suasana begitu tenang, angin dingin mulai mengoda kami untuk meminum teh, “ saya kedinginan, minum duluan ya om”, ujarku, lalu aku menanyakan sesuatu yang mengajal tetang maksud Imprealisme itu sendiri. Apakah memperebutkan tanah untuk memperbesar wilayah kekuasaan, bagaimana mekanisme kerjanya. Tak begitu tertahankan dalam hati, terlontar saja keluar dari mulutku yang tak terbungkam, “Om, sebenernya sih Imprealis apa? Penjajahan atas motif memperbesar wilayah kekuasaan, penjajahan berdasarkan atas agama, atau Penjajahan atas semangat rasis. Atau ini salah semua?”.
Tan terdiam, meminum teh yang memang sudah ada di tangannya. Aidit mau menjawab, namun diberhentikan oleh Tan. Aidit diam, menunggu apa yang ingin disampaikan Tan.
“begini bung, saya mencoba menjelaskan dalam kerangka politik. Yang pertama, saya menyebutnya Imperialis biadab, yakni menghancurkan sekalian kekuasaan politik bumiputera dan menjalankan pemerintahan yang sewenang-wenang, dapat kita lihat pada kasus Spanyol di Philipina. Kedua, Imperialisme setengah liberal, yakni memberikan kekuasaan yang sangat terbatas kepada bumiputera yang berkuasa, sebagai contoh raja-raja atau kepala negara yang turun-menurun seperti Inggris di India dulu. Lalu, ketiga, Imperialisme Liberal, yakni memberikan sepenuhnya-penuhnya kepada borjuasi bumiputera. Pada titik ini, mungkin saya sepakat pada teori Imprealis-nya Lenin, akan selalu ada motif ekonomi dibaliknya”. Ujarnya.
Seketika selesainya Tan berbicara, Aidit dan Hatta terlihat tidak begitu sepakat, dengan apa yang disampaikan Tan.
“Bung, saya rasa ini sudah tidak sesuai konteks pembahasan kita, karena melompat jauh. Lebih baik, kita coba menguak dulu apa itu kapitalisme dalam konsepsi ke-Indonesia-an”. Hatta yang sedikit berbicara, mari kita kembali pada sejarah, kembali merefleksikannya, mem-Reformulasi-kan bentuk gerakan, membumikan kembali para pemuda.
Ditulis oleh Wildanshah
No comments:
Post a Comment