Buku serial Komik yang diterbitkan oleh Penerbit Resist ini, mengungkap kisah hidup dan pandangan-pandangan Sang Maestro kaum Kulit Hitam (Negro), Malcolm X, yang setelah beliau menunaikan ibadah Haji mendapat julukan baru yaitu “El Hajj Malik Shabazz”.
Masa kecil Malcolm, tidak begitu baik bagi anak-anak seusianya saat itu. Ia dianggap “berbeda” dari saudara-saudaranya dikarenakan warna kulitnya yang cenderung agak terang dan berwarna kemerahan.
Sebabnya adalah kakeknya, ayah dari ibu Malcolm (Loise) merupakan keturunan West Indian Skotlandia. Dan ibu Malcolm bukan termasuk Negro kulit hitam dan berambut pirang. Di lingkungan sosialnya, keluarga Malcolm sering mendapatkan perlakuan diskriminatif dari para tetangganya karena mereka Negro. Kaum Kulit Hitam di Amerika dan Eropa pada saat itu memang tidak mendapat hak-hak sipil mereka. Banyak kriminalitas yang dilakukan oleh orang kulit putih namun tidak dianggap sebagai perbuatan tindak pidana. Oleh sebab itu, Malcolm kecil banyak menghabiskan waktunya dijalanan. Bersama gerombolan negro lain hingga usia remaja. Berbagai macam jenis pekerjaan pernah dilakoninya semasa remaja, dari berburu kelinci bersama kelompok berburu “Blood Brothers”, hingga menjadi gigolo. Namun, kehidupan masa remajanya bukan berarti tanpa prestasi. Malcolm pernah menjadi Ketua Kelas saat ia menduduki kelas 7 di sekolah tingkat menengah. Hal itu merupakan prestasi yang mengagumkan, karena belum pernah ada sebelumnya negro yg mendapat pengahrgaan seperti dirinya. Perlakuan rasis yg diterimanya sejak usia dini membuatnya amat membenci kaum kulit putih.
Kehidupan kelam Sang Maestro berakhir di usia 21 tahun, ketika dirinya dijebloskan ke penjara karena dituduh telah mencuri jam tangan dari sebuah toko perhiasan milik orang kulit putih. Malcolm mendekam dalam penjara Charlestown yang minim fasilitas. Bahkan ketika di dalam penjara, dia mendapat perlakuan kejam dari para sipir tahanan dan juga menjadi budak kulit putih sesama tahanan. Oleh sebab itu, ia menyerang semua orang dan diasingkan dalam sel tertutup karena dianggap gila dan berbahaya. Dan ia dijuluki “Setan” karena anti-agama. Namun seiring kunjungan dari saudara-saudaranya, Malcolm mulai sadar akan jati dirinya. Dan ia memutuskan untuk masuk Islam. Suatu agama baru bagi orang-orang negro. Ia tergabung dalam Nation Of Islam (NOI) dan kemudian menjadi seorang juru bicara, mendampingi Elijah Muhammad.
Seiring pidato-pidatonya yang membakar semangat para kaum negro untuk menolak rasisme dan separatis yang banyak mereka terima dari kulit putih, Malcolm dibebastugaskan selama 90 hari oleh NOI karena pendapatnya atas kematian Presiden J.F. Kennedy dianggap melecehkan Amerika dan tidak mewakili komunitas Muslim Kulit Hitam. Dan semenjak pembebastugasannya, kekerasan terhadap kulit hitam terus merebak. Dalam perenungannya, Malcolm akhirnya memutuskan untuk keluar dari NOI karena orang yg paling dihormatinya, Elijah Muhammad ternyata bersalah telah melanggar moral dan aturan-aturan ketatnya sendiri. Selain itu, terdapat konspirasi dibalik pembebastugasannya oleh NOI. Sebab itulah akhirnya yg membuat Malcolm hengkang dan kemudian mendirikan organisasi Islam lain, yaitu Muslim Mosque Inc. dan Organization of Afro-America Unity.
Setelah kepergiannya dari NOI, Malcolm memutuskan untuk menunaikan ibadah haji, di Tanah Suci Mekkah. Kemudian Ia berkeliling Eropa dan Timur Tengah, mengunjungi Lebanon dan Aljazair. Menyaksikan orang-orang disiapkan utk gugur demi kebebasan dari pemerintahan yang menindas. Di hari-hari terakhir hidupnya, Malcolm tetap berpidato walau terdapat sederet ancaman pembunuhan atas dirinya, yg juga dianggap pengkhianat oleh kelompok Black Moslem. Namun Malcolm seperti tidak menghiraukan, hingga pada saat terakhirnya ketika ia ditodong pistol oleh tiga orang laki-laki yang pada barisan depan bergerak mendekatinya pada pidatonya disebuah pertemuan kecil, dan kemudian menembaknya tepat di dada.
Itulah saat terakhir Sang Maestro Kulit Hitam, Malcolm X, Detroit Red, El Hajj Malik Shabazz.
ditulis oleh Lia
No comments:
Post a Comment