Sep 30, 2011

Kembali Kepemberdayaan : Revolusi itu Menciptakan

Waktu telah berlalu, secarik kopi menemani ku bercanda dengan Tan Malaka, sosok revolusioner pada masanya, mungkin sampai kini. Ia sudah tak terlihat muda lagi, namun pikirannya tak pernah berubah, lurus, tidak bertele-tele,"Revolusi itu menciptakan!", ujarnya. ditengah sunyinya malam ini, pada ku.

aku tersentak kaget, mencoba memahami apa yang ia katakan pada ku, ditengah hingar-bingar teknologi dan kebebasan; memilih barang konsumsi." apa lagi yang mau di ciptakan? melalui revolusi" pikir ku dalam hati. generasi sekarang jangan selalu disandingkan dengan penderitaan masa lalu, generasi 2011, bukanlah generasi kelaparan, bukanlah generasi yang ditindas dengan kerja paksa. generasi kami adalah penikmat kemerdekaan fisik dari perginya penjajah,diatas bumi putra.

Pria padang itu pun menarik sedikit alisnya, lalu berkata "apa yang membedakaan zaman mu dengan zaman ku?". pertanyaan tegas, tidak bertele.


"begini om, zaman anda waktu itu, pejajahan kapitalisme sangat jelas bahwa itu benar-benar menindas, terus, kapitalisme itu menjadi musuh yang harus di lawan, kalau di zaman ini kapitalisme, itu sudah menjadi udara yang di butuhkan manusia untuk hidup, ia menciptakan barang murah, contohnya Hape saja, coba liat iklan XL, sepertinya cukup repsentatif menggambarkan kondisi kelanjutan kapitalisme, ia menjadi membumi, memberikan kesenangan untuk memiliki, hape tidaklah menjadi barang mahal, teknologi ini menjadi dekat dengan nadi semua golongan masyarakat, yaa, seperti kata teman ku, mungkin inilah indahnya tidak ada monopoli, karena ada pola persaingan yang berdampak pada pola konsumsi, hhmmm, ya, kapitralisme kini mengkontrol konsumen, dengan citra, dengan citra dengan kebebasan mengkonsumsi, ini lah arti kemerdekaan angkatan kami", muka ku mulai memerah, karena malu.


suasana mulai sepi, secangkir kopi belumlah habis. pembicaraan kami masih berlanjut.


"entahlah apa yang ada dimenak kalian, tapi aku banyak melihat di generasi mu, banyak sekali aktifis selalu turun kejalan, meneriakan revolusi, menggocang trotoar dengan bendera yang dikibarkan, walaupun saya tidak pernah melihat satu bendera pun yang berwarna merah putih. yaa, hati ku cukup senang masih ada yang menanam benih perjuangan" gumam si Datuk ini.


Romantisme, pikir ku, orang tua PKI ini terlalu berromansa bersama nuasa masa lalu." mungkin om, saya mengingat apa yang menjadi ramalan om, di karya massa aksi , janganlah terjebak bagi kaum revolusiner dalam slogan heroik tanpa kerja. ya, sepertinya, apa kata om, bisa menjelaskan kondisi para pejuang kini. demontrasi kini menjadi panggung, puisi perlawanan hanya pergi bersama angin, yang abadi hanya foto yang tertankap kamera, esoknya para pejuang ini bercerita tentang gaya aksi mereka yang ada di koran. untuk lebih mudah membahaskannya, aktifis kini menjadi gaya hidup, demo menjadi hobi, mencela penguasa hanya untuk mencari kesenangan. begitulah anggkatan kami, hanya senang pada permukaan, tanpa ada pendalaman, terjebak citra lupa pada subtansi. angkatan kami suka bergaya dengan melacurkan penderitaan rakyat, ideologi sepertinya cuma ada di status Facebook dan mungkin juga di twiterr atau kaos-kaos"


oh iya ini masih berlanjut looh....


Ditulis oleh Wildanshah

No comments:

Post a Comment