Jul 4, 2012

Menggosipkan Realisme-Sosialisme Pramoedya Ananta Toer | Ngobrol Asik TerangSore

Oleh : Among Prakosa

Di sela himpitan tugas dan gencarnya kuliah pengganti menjelang UAS, bocah TerangSore pada awal sore hari ke 23 di bulan Juni ini menyempatkan diri untuk berkumpul dan menggosipkan apa itu Realisme-Sosialisme, sering ditulis Realisme-Sosial, dengan menggunakan novel milik Pramoedya Ananta Toer (Pram) sebagai rujukan.

Ngobrol asik ini merupakan pemanasan untuk program Kelas Menulis Terang Sore yang akan memasuki putaran ketiga. Rencananya, putaran ketiga Kelas Menulis Terang Sore akan digulirkan saat tahun ajaran baru 2012.

Juga masih menggunakan diksi “rencananya”, di putaran ketiga nanti Kelas Menulis akan mencoba bentuk tulisan Jurnalistik, khususnya Jurnalisme Sastrawi.


Jul 2, 2012

Save Our Child

Oleh : Lia Kusuma Astuti


Anak-anak adalah harapan. Setidaknya hal itu terucap dari seorang tokoh pejuang kulit hitam Amerika, Malcolm X. Menurutnya masa depan sebuah bangsa berada di tangan anak-anak. Masuk akal memang, melihat realitas bahwa generasi penerus bermula dari anak-anak. Tidak hanya bagi orangtua, tapi juga lingkungan sekelilingnya. Karakter anak dapat terbentuk sesuai pendidikan yang diterimanya. Analoginya seperti selembar kertas putih yang belum tersentuh pena. Dalam hal ini, yang sangat mempengaruhi karakter seorang anak berasal dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga dan sekolah.
Kehidupan anak-anak yang diidentikkan dengan dunia bermain, seolah membatasi dimensi dunia anak dengan dunia orang dewasa. Namun seiring perjalanan waktu, dunia anak seolah menghilang dari peradaban zaman. Permainan tradisional kini digantikan oleh era yang serba digital dan praktis. Begitu  pula dengan tontonan, music, dan bacaan anak-anak seperti menghilang dari bumi. Media visual maupun cetak tidak memberikan porsi yang seimbang bagi konsumen anak-anak dengan dewasa. Acara-acara televisi yang tidak edukatif serta music-musik melankolis milik penyanyi dewasa kini akrab dengan dunia keseharian anak. Maraknya sinetron televisi yang tayang pada jam-jam “prime time” membuat anak semakin betah nongkrongin televisi daripada belajar atau membaca.

masa depan: sawah masih ada kah?

Oleh : Lia Kusuma Astuti

Realitas itu nggak ada di dalam ruangan. Keluarlah dan eksplorasi yang ada disekitarmu.
Suasana sore yang panas membuat aku tidak focus dengan tulisan ku yang belum ku kerjakan. Laras pun demikian, tapi tampaknya alasan yang sangat mengganggu konsentrasinya sore ini adalah karena dia ngantuk. Beberapa kali dia meminta ijin pada Mas Among untuk tiduran sejenak. Suasana makin tidak kondusif dengan kehadiran anggota komunitas lain yang membuat suasana gaduh disekitar kami. Kemudian Mas Among berinisiatif mengajak aku dan Laras untuk berkeliling sekitar. Berproses kreatif, katanya. Aku dan Laras segera mengikutinya. Tempat yang kami sepakati untuk dituju adalah sebuah areal persawahan yang terletak di belakang bangunan yang kami tempati sebagai taman baca.
Selama perjalanan yang kami lalui menuju areal persawahan itu, kami bertemu dengan tiga orang ibu-ibu yang sedang “ngemong” buah hatinya yang sudah dimandikan dan kelihatannya mereka juga menikmati sore yang cerah hari ini. Ada sungai kecil yang mengiringi jalan setapak yang kami lalui. Kemudian kami menuju sebuah gubuk kecil. Obrolan seputar kelas menulis dan komunitas ini terasa seperti rapat redaksi, kata Mas Among. Dia meminta kami, aku dan Laras untuk melihat realitas yang sedang terpampang di depan mata kami.

Jul 1, 2012

Mall, Perlu nggak sih?

Oleh : Fetty Wiyani

Mall atau dengan nama lainnya yang kita sebut sebagai pusat perbelanjaan, terdapat di dalamnya kumpulan toko-toko yang penuh sesak dengan barang-barang dagang, terdiri dari barang primer, sekunder, tersier dapat kita temui di Mall tersebut. Mall adalah sebuah ruang tanpa waktu dan surga-nya dunia, karena ruangan yang nyaman, tangga berjalan atau escalator, lift  serta berbagai benda-benda keinginan dan kebutuhan kita dapat kita temui disana. Banyak masyarakat yang hanya sekedar melepas lelah dan mendapatkan beberapa hiburan. Berbagai macam interaksi hiburan dapat ditemui di ruang tanpa waktu ini, yang biasanya setiap akhir minggu event organizer suatu mall mengadakan acara  untuk menarik para konsumen mengunjungi mall tersebut. Mall-mall tumbuh bukan saja sebagai tempat belanja, melainkan juga kini sebagai tempat hiburan dan rekreasi seluruh keluarga. Dalam paradigma modernisme, pembangunan mall juga sebagai simbol modernisasi, dampak ekspansi kehidupan globalisasi dari barat. Perkembangan zaman tersebut yang diciptakan manusia atau kelompok lain (maju), menuntut untuk ikut merubah pola kehidupan manusia atau kelompok lainnya. Seperti mode pakaian, gaya hidup, dan Mall.
Arus modernisasi yang berawal dari mall ini pun berdampak besar untuk mempengaruhi lingkungan sosial masyarakat. Banyak sekali kini, dapat ditemui mall-mall disetiap sudut kota-kota besar yang jumlah sangat banyak, bahkan terkadang saya sendiri melihatnya adalah suatu pembangunan yang ‘mubazir’ dan hanya menguntungkan beberapa pihak saja. Sebagai contohnya di daerah Jakarta dalam satu daerah blok jalan terdapat beberapa mall yang berdiri, sekitar 2 sampai 4 mall di dalam satu lingkungan.

‘DIA’ UNTUK PERSAINGAN

Oleh : Muammar Khadafi

Dari samping, ‘dia’ terlihat panjang. Dari depan, ‘dia’ terlihat lebar. Dan ketika mereka, para makhluk berakal itu sudah memasuki ‘dia’, keindahan serta kemegahanlah yang mereka dapatkan darinya. Kulit yang dipenuhi oleh alat pendingin (manusia sering menyebutnya dengan sebutan AC) di sekitar puing-puing tubuhnya, sudah menjadi ciri khas dan melekat pada jati diri ‘dia’. Jika manusia memiliki paru-paru, usus, hati, jantung, dan alat organ lain di dalam tubuhnya, ia hanya mempunyai pilar-pilar bangunan yang bisa ‘dia’ anggap sebagai kaki untuk membantunya berdiri. Dirinya yang sangat simple ini, ternyata membuat manusia tertarik terhadap bangunan tersebut. Daya tariknya itu tidak semata-mata karena bentuk dirinya saja, melainkan dari para pendukung yang menumpang dan menggunakan ‘dia’ untuk kepentingan ekonomi mereka. Kepentingan yang memaksa mereka untuk berkecimpung dalam dunia ‘persaingan’ agar kebutuhannya terpenuhi.

Jun 23, 2012

Ke [tak] hadiran di Ruang Media*

Oleh: Among Prakosa

Di abad 20 kemarin media massa dielu-elukan sebagai salah satu pilar demokrasi. Melalui media massa, populi (baca: rakyat) dapat menyampaikan aspirasi, menerima informasi, dan melakukan kontrol pada pemerintah. Singkat kata, media massa memungkinkan kehadiran populi dalam praktek bernegara.

Namun cita-cita warisan abad pencerahan itu masih menjadi PR yang belum tuntas.  Hingga kini –terutama di negara-negara yang lahir paska PD II– sentimen rasial, primordialisme, serta idiologi patriarki warisan kolonial masih menjadi bayang-bayang di balik proses produksi berita. Salahsatu hasilnya adalah mekanisme swa-sensor narasumber: siapa yang boleh hadir dan siapa harus menyingkir dari teks media.

Belakangan, kebutuhan untuk menjaga jumlah tiras, pertumbuhan ekonomi dan gelembung kue iklan, ditambah penyatuan media-media ke dalam satu korporasi tunggal makin menebalkan tanya: apakah media hadir untuk kepentingan pembaca, atau semata untuk kebutuhan media itu sediri (hitung-hitungan dagang)?

Bagi bangsa yang mengamini demokrasi sebagai sistem politik resmi mereka, pertanyaan tentang kehadiran/ketiadaan komunitas masyarakat tertentu dalam teks media (baca: berita) adalah keniscayaan. Sebab teks media merupakan bentuk dari wacana, dan Wacana, adalah sesuatu yang memproduksi yang lain (gagasan, konsep, efek)[1]. Artinya, melalui wacana lah warga-negara, atau pembaca teks, memahami realitas di luar dirinya.