Sep 30, 2011

Kembali Kepemberdayaan : Revolusi Itu menciptakan 2

Sambungan ...

Revolusi, Revolusi, Revolusi, ideologi. Terkadang, kata ini memiliki makna yang cukup mendalam, beribu harapan dikepala sedikit orang yang mengingikannya.

Tiba-tiba, dalam perbincangan kami, orang itu datang memberikan sapaan dengan tawa yang begitu muram. Di balik malam, wajahnya begitu samar namun terlihat akrab, dengan gerak tubuhnya yang begitu tenang. Aku dan Tan malaka berhenti sejenak, membiarkan obralan kami terganggu, untuk menyelesaikan penasaran kami.

"Hai, Bung, sudah lama kita tidak bertemu? kaum begitu populer sekarang, dikalangan remaja yang mulai melupakan ku" ucap seorang berambut tebal, dengan nada sedikit menyindir. Wajahnya mulai terlihat, tak lama Tan malaka tersontak tertawa, lalu mengenalkannya pada ku.



" Aidit, Aidit, kau membuatku sedikit bingung, tiba-tiba datang. mmm.. Shah, ini Aidit, mungkin kau mengenalnya. Ia cukup Populer. Sosok pemimpin PKI berhaluan, poros Peking, yaa. Seorang Maois sejati. Namun, sedikit mengingatkan saja, dia tidak begitu lucu, selera humornya rendah. hahahaha". Tan begitu bersemangat mengenalkan Aidit pada ku. Sikap Tan berubah menjadi cair, tidak kaku seperti bangku pinggir taman. Tetap saja, Aidit hanya sedikit tersemyum tanpa berkata apapun.


Aku mulai mengakat tangan, mencoba berjabat tangan dengan orang yang ku kenal sangat sinis terhadap Tan Malaka. "aduh om, saya ga percaya bisa ketemu om. saya, Shah, yaa, saya kenal om cuma lewat obralan bareng teman-teman, karya-karya om juga. hhmm, duduk om, kita lagi sekedar bertukar pikiran mungkin kalo ada om jadi lebih menarik. hehehe" tanpa, berbicara apa pun, ia langsung duduk dan mulai menjabat tangan ku yang dari tadi di biarkannya melayang.

Jam 00.00, malam tak terasa, dingin mulai terasa. Kedatangan Aidit, seperti suntikan penghilang rasa kantuk, semangatku mulai keluar dari persembunyian, rasa ingin tahu tetang masa lalu tak tertahankan. “wah, wah. Sepertinya kita semua akan bergandang ampe pagi, kasian bang Rhoma Irama, padahal udah ngelarang bergadang.hehehehe” ucapku, berniat memecah hening. Kedua orang ini, hanya terdiam, sepertinya mereka tak mengenal Rhoma irama, raja dangdut dan Kiai artis pujaan masa kini.

Sudahlah, tidak perlu dipedulikan, “hhmm, oia, emangnya, kalau kondisi Indonesia pada zaman om gimana sih? Kayanya, repot banget” penasaran mulai memburu, rasa untuk ingin tahu tak tebendung mendengar pengalaman mereka.

Aidit langsung menyambar pertanyaan ku, dia mulai menegakan badan sembari mengepalkan tangannya tepat di atas meja. ”saya coba jawab pertanyaan Bung. Negeri kita, negeri yang di selimuti ribuan dongeng cerita rakyat, sikap bangsa ini pun selalu dibatasi oleh mitos yang ada. Sampai pada akhir abad ke 19 dan awal abad 20 tidak banyak yang berubah, begitu pun saat Imprealisme Belanda menancapkan kakinya di tanah air kita, dengan segala kekerasan dan kekejaman. Menindas dengan persenjataan melakukan ancaman kepada bangsa kita. Tidak hanya itu, Belanda menghisap kekayaan negri kita, maka kemiskinan dan kemelaratan merajalela sangat mendalam dan merata dikalangan bangsa kita.”

“saya sepakat bung, kemelaratan pada masa itu adalah sebuah kenyataan. Beberapa ribu, bahkan beberapa ratus ribu rakyat Indonesia yang meringkuk dengan perut kosong, para petani, buruh lapar di ladang, di kebunnya. Kelaparan karena pajak mencekiknya, rakyat kita menjadi “budak kolonial”, kelaparan di negri sendiri, yang kehilangan tanah dan dihisap mata pencariannya. Ini berlangsung sudah 300 tahun, rakyat kita waktu itu hidup dalam keadaan yang tak mengenal hak. Pak tani tak pernah sehari juga mendapatkan kepastian tetang kepunyaan, kemerdekaan, bahkan tetang kepastiannya nyawanya, penasaran tetang keberlangsungan hidupnya esok”. Tutur Bolsyewik yang mahir berbicara revolusi, Tan malaka. Pemberontak asal Minang Kabau, mulai menghasut, mulai memanaskan diskusi.

Tak begitu lama, ia lalu menoleh secara bergantian melihatku yang sedikit gugup, dan Aidit yang hanya menganggukan kepala, meng-amien-ni apa yang dibicarakan Tan malaka.

Udara mulai dingin, aku coba mengambil tasku, yang berada di samping kursi sebelah kananku, Tas hijau yang memiliki bordiran Indonesia Belum Merdeka, ketika hendak mulai mengambilnya, tasku terinjak, Aidit. “ Om, sorry, mau ngambil tas nie, mau ngerokok, mumpung lagi ada sisa banyak di tas, mau ga om?” kata ku pada Aidit. “Maaf, Bung. Terimakasih saya tidak merokok. Mungkin, Soedirman akan senang bila ada disini, dia senang sekali merokok bila Bung menawarkannya rokok” ujarnya.

Aku sejenak bingung, sepertinya, aku pernah melihatnya di Film tentang pemberontakan 30SPKI, ia terlihat sedang merokok saat memimpin rapat, merencanakan pembunuhan, tersontak aku teringat bahwa Film yang aku tonton saat sekolah dasar itu penuh dengan tipu muslihat, mungkin, begitu juga sosok Aidit dicitrakan menjadi buruk, pikirku dalam hati.

Aku mengurungkan niat untuk merokok sambil melirik Tan malaka, yang terlihat ingin bicara. “Orang tak akan berunding dengan maling dirumahnya” ucapnya pelan, Tan mengulangi kata-kata yang pernah dilontarkan saat berpidato di Purwokerto, pidatonya menjadi pembuka rapat pertama Persatuan Perjuangan pada tahun 1922. Mendengar ucapannya, tubuhku tiba-tiba kaku, susah untuk bereaksi sepatah kata pun untuk menanggapi ucapnya itu, seolah apa yang ia katakan seperti palu yang menghantam jantungku, berhenti, mengeluarkan darah.

Aidit tersenyum, namun matanya terlihat kosong, mungkin ia sedang kembali mengingat masa lalu. Situasi dimana negara ini banyak bergejolak. Mulutnya mulai telihat tak sabar untuk bersuara. “Begini Malaka, coba sedikit kita pahami, kondisi yang mendorong koloni di Indonesia, kita sepakati bahwa bermotif ekonomi, pejajahan berwajah kapitalistik.” Ujar lelaki kelahiran Belitung, Sumatra selatan. ”Masalah yang sudah berabad-abad menyibukan fikiran manusia jelas masalah tetang apa yang menentukan sifat suatu sistim masyarakat, bagaimana masyarakat manusia berkembang, apakah rakyat yang sudah turuntemurun hidup melarat dan sengsara dapat memperbaiki nasibnya, apakah kebebasan dan kemakmuran dapat dicapai untuk semua manusia, ataukah hanya untuk golongan kecil saja, apakah miskin dan kaya itu takdir, ataukah kemiskinan dapat dilenyapkan. Semua masalah ini menyangkut kepentingan vital dari kehidupan manusia, sehingga tidak mengherankan bahwa banyak ahli-fikir berusaha memberika jawaban atas masalah-masalah tersebut”. Kata Aidit, dia memulai, membuka pertanyaan yang harus membutuhkan jawaban mendalam.

Mukaku mulai memerah, merasa malu bila tak berbicara, mencoba menyusun kata-kata, untuk membahasakan fikiranku. “emm, anu om, anu, begini, adu susah banget ya, kalau menurut saya, sistim masyarakat kita banyak pencampuran tatanan nilai, norma bahkan pada beberapa fenomena masyarakat kita berkembang dalam payung mitologi, ya, tidak berbeda jauh dengan kondisi yang ada pada zaman yunani kuno, Pencampuran tatanan dan pranata sosial dapat kita lihat pada saat sebelum agama islam masuk, di Nusantara sudah berlangsung kehidupan dan perkembangan masyarakat Hindu-Buddha yang banyak mempengaruhi pola interaksi bangsa ini, dan akhirnya Indonesia memasuki zaman Islam di awal abad ke 16. Pergulatan ketiga unsur ini, dalam pendapat pribadi, menjadi sebab untuk melahirkan berbagai kerajaan, seperti, misalnya, daerah yang dipengaruhi Islam, membangun kerajaan di Indonesia, Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kerajaan Aceh, Kerajaan Makasar, kerajaan Ternate dan Tidore, Kesultanan Kutai, Kerajaan Banjar. Walaupun, ada beberapa daerah tidak terpengaruh dengan kehadiran agama Islam. Jadi, yang ingin saya sampaikan, pencampuran kebudayaan ini berdampak pada perilaku masyarakat yang akhirnya terbentuk, terbiasa dengan penerimaan feodalisme, sering membicarakan hal yang bersifat spiritual, immaterial, mitos, sampai pada tahap kita akan mengagap bahwa bangsa kita berisikan manusia-manusia yang “irasional”, bila kita melihat situasi Bumi Putera dengan kaca mata rasionalitas barat”.

Tak sadar, aku malah banyak bicara, Tan dan Aidit melihatku, seolah memberikan aku kesempatan untuk berbicara kembali. “tidak hanya itu, kondisi ini pula yang mempengaruhi pola perekonomian, posisi dan peran Indonesia dalam jaringan perdagangan dan pelayaran Asia-Eropa, pada sampai saat kedatangan Belanda ke Indonesia pada tahun 1596 di pimpin oleh Cornelis de Houtman yang mengikuti jalur Portugis, namun jauh dari pantai, sehingga langsung masuk Selat Sunda dan masuk pelabuhan Banten. Kehadiran mereka di tolak, karena bersikap kasar, Belanda kembali ke negrinya namun inilah awal petaka bagi Indonesia, sejak itu berbondong-bondong orang Belanda mulai berdatangan kembali ke Ibu Pertiwi”. Aku seperti asal bicara, mengeluarkan pendapat dari buku sejarah kusam, yang pernah ku baca di perpustakaanku.


“saya sepakat itu, awal dari koloni, semua karena keberadaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), merekalah nyata penghisap”. Kata Aidit, lalu tak lama “ Memang, VOC dibuat untuk menjadi mesin monopoli, dalam upaya menghindari persaingan antar pedagang. Jacob van Odenbarnevelt adalah pencetus ide tersebut pada tahun 1902, pemerintah Belanda memberikan hak istimewa kepada VOC, antara lain, hak monopoli dagang, hak membuat uang, membentuk tentara dan membangun benteng-benteng, dan juga VOC mampu memerintahkan pemerintah jajahan, mengadakan perjanjian sekaligus membatalkanya. Hebat bukan?”. Suaranya terdengar sangat sinis, yang ku tahu ini bukan suara Tan maupun Aidit. Aku mencoba mencari tahu, mata ku mulai berkerja mencari sosok dalam kegelapan.

“Bagaimana, tidak ada yang memberikan tawaran pada saya untuk ikut duduk disini, meramaikan diskusi”. Suara ini mulai terdengar begitu dekat, bersamaan dengan suara itu, seperti ada yang sedang memegang pundakku.

Tan dan Aidit mulai sadar bahwa ada kehadiran orang lain. Seorang tamu yang mereka kenal. Aku mulai membalikan tubuhku untuk mengetahui siapa yang dilihat Aidit dan Tan malaka. Sekilas, aku hanya melihat orang berpakaian rapi, aroma parfum begitu menyengat, seorang laki-laki yang memegang buku di tangan kirinya. Ditengah gelap, wajahnya mulai terlihat, sangat jelas kaca mata besar itu, memenuhi wajahnya. “Bagaimana, bisa kita lanjutkan diskusinya” ujarnya. Tan Malaka berdiri dari tempat duduk, tangan kanannya mulai bergerak menuju lelaki dibelakang ku, Seolah sangat menyambut kedatangannya, mereka mulai berjabat tangan. “selamat datang bung”. Tan malaka, lansung kembali ketempat duduknya.

Aidit mulai mempersilahkannya ikut duduk bersama kami “ silahkan duduk, mungkin kau sedang lelah memikirkan kondisi ekonomi negeri. Duduklah, kendurkan urat yang mulai tegang karena terlalu banyak berfikir agar sedikit rileks, mungkin menyeduh teh menjadi pilihan untuk menenangkan perasaan kita semua, pasti kamu setuju dengan pendapatku, Shah bisakah kau membuatkan teh hangat untuk Bung Hatta, agar ia tidak terlalu terlihat kaku”.


Ditulis oleh Wildanshah

No comments:

Post a Comment